Mesin Pertumbuhan 6 Persen Sudah Hidup di Daerah

Selasa 08-09-2026,21:12 WIB
Reporter : Reza
Editor : Reza

Ketika bahan baku MBG dibeli dari petani lokal, koperasi desa menjadi pusat distribusi ekonomi, dan proyek renovasi dikerjakan oleh kontraktor daerah, manfaat ekonomi tidak berhenti di kota-kota besar. Uang berputar di desa, kecamatan, dan kabupaten.

Di situlah pemerataan dimulai.

Namun, agar dampaknya maksimal, kebijakan tersebut harus terhubung dengan kekuatan ekonomi lokal. Petani, nelayan, pelaku UMKM, koperasi, BUMDes, dan industri daerah perlu ditempatkan sebagai bagian dari rantai pasok, bukan sekadar penerima manfaat.

Nasionalisme ekonomi hari ini tidak cukup diwujudkan melalui pembangunan di pusat-pusat ekonomi besar. 

Nasionalisme ekonomi abad ke-21 berarti memastikan bahwa petani di desa, nelayan di pesisir, pelaku UMKM di kecamatan, dan industri di daerah memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh.

Fondasi pertumbuhan nasional juga menunjukkan arah yang positif. Pada Q1 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen, tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, didukung oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan peningkatan belanja pemerintah. 

Investasi tumbuh hampir 6 persen, sementara sektor jasa, pariwisata, transportasi, dan akomodasi juga menunjukkan ekspansi yang kuat. (BPS)

Meski demikian, target pertumbuhan 6 persen tetap menghadapi tantangan. Ketidakpastian global, harga energi, suku bunga, dan tensi geopolitik dapat memengaruhi laju perekonomian. 

Sejumlah lembaga internasional bahkan masih memperkirakan pertumbuhan Indonesia berada di sekitar 5 persen. (Reuters)

Karena itu, target 6 persen harus dipandang bukan sebagai angka yang berdiri sendiri, melainkan sebagai agenda untuk mempercepat transformasi ekonomi. 

Target tersebut membutuhkan peningkatan produktivitas, penguatan daya saing daerah, perluasan investasi, serta keterlibatan lebih besar pelaku usaha lokal.

Sebagai penggagas Gerakan Nasional UMKM Bangkit, saya meyakini bahwa kunci pertumbuhan 6 persen bukan hanya investasi besar atau proyek strategis nasional.

Kuncinya adalah menghubungkan investasi besar dengan jutaan UMKM, memastikan hilirisasi menciptakan rantai pasok lokal, membuka pasar baru bagi usaha kecil melalui digitalisasi, serta mendorong koperasi, BUMDes, UMKM, industri daerah, dan perusahaan besar bergerak dalam satu ekosistem ekonomi yang saling memperkuat.

Jika hal itu dilakukan, pertumbuhan ekonomi tidak hanya menjadi lebih tinggi, tetapi juga lebih merata. Ketika pertumbuhan tersebar lebih luas, kesejahteraan akan lebih cepat dirasakan masyarakat.

Sejarah pembangunan menunjukkan bahwa tidak ada negara yang berhasil meloncat menjadi negara maju tanpa keberanian menetapkan target yang lebih tinggi daripada kondisi saat ini. China pernah melakukannya. 

Korea Selatan pernah melakukannya. Vietnam sedang melakukannya. Indonesia juga harus berani melakukannya.

Tags :
Kategori :

Terkait

Terpopuler