Tisu yang Kita Pakai: Bagaimana Proses Pembuatannya Bisa Selaras dengan Alam?

Tisu yang Kita Pakai: Bagaimana Proses Pembuatannya Bisa Selaras dengan Alam?

--youtube.com

ACEH.DISWAY.ID - Tisu merupakan salah satu produk kebersihan yang tak terpisahkan dari kehidupan modern. Namun, di balik kemasan praktisnya, terdapat proses produksi yang kompleks dengan dampak terhadap lingkungan. Industri tisu kini bergerak menuju prinsip keberlanjutan, berusaha menciptakan keseimbangan antara kebutuhan konsumen dan kelestarian alam.

“Prinsip utama produksi berkelanjutan adalah menciptakan siklus yang bertanggung jawab, mulai dari pemilihan bahan baku, proses manufaktur, hingga produk akhir yang dapat terurai,” ujar seorang praktisi industri kertas ramah lingkungan.

“Kami fokus pada pengurangan jejak karbon, efisiensi air, dan sumber serat yang dikelola secara bertanggung jawab,” tambahnya.

Proses Pembuatan Tisu: Menjaga Keseimbangan dengan Alam

  1. Pemilihan Bahan Baku yang Bertanggung Jawab

Sumber Serat: Bahan utama tisu adalah serat selulosa. Produsen berkelanjutan memprioritaskan serat daur ulang (post-consumer recycled fiber) atau serat virgin dari hutan tanaman industri yang memiliki sertifikasi pengelolaan hutan berkelanjutan seperti FSC (Forest Stewardship Council) atau PEFC (Programme for the Endorsement of Forest Certification). Menurut Ahli, Sertifikasi ini menjamin bahwa kayu berasal dari hutan yang dikelola dengan mempertimbangkan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi, bukan dari deforestasi.

    2. Proses Pulping dan Pemutihan Ramah Lingkungan

Proses: Kayu atau kertas daur ulang diolah menjadi bubur kertas (pulp). Untuk mengurangi dampak lingkungan, metode pemutihan (bleaching) telah beralih dari penggunaan klorin (ECF/TCF) menjadi proses Elemental Chlorine-Free (ECF) atau Totally Chlorine-Free (TCF) yang lebih minim dampak terhadap ekosistem air. Dengan Teknologi modern memungkinkan pemutihan yang efektif sekaligus meminimalkan senyawa organik berbahaya dalam limbah cair.

    3. Pembentukan, Pengeringan, dan Konversi yang Efisien

Proses: Bubur kertas diencerkan dengan air, dibentuk menjadi lembaran pada mesin Fourdrinier, kemudian dikeringkan. Inovasi di tahap ini berfokus pada efisiensi energi dan penggunaan air daur ulang dalam sistem tertutup (closed-loop water system) untuk meminimalkan konsumsi. Pabrik-pabrik baru dirancang untuk memaksimalkan efisiensi sumber daya. Uap dan air panas dari proses sering kali didaur ulang untuk memanaskan fasilitas.

    4. Pengemasan dan Logistik dengan Jejak Karbon Minimal

Proses: Lembaran tisu dipotong, dilipat, dan dikemas. Upaya keberlanjutan diterapkan dengan menggunakan kemasan yang dapat didaur ulang atau terbuat dari bahan plastik berkurang, serta mengoptimalkan rantai pasok untuk memotong emisi transportasi. "Setiap gram material yang dikurangi dari kemasan, berdampak besar pada pengurangan sampah dan emisi karbon secara keseluruhan.” kata Ahli

Komitmen Industri terhadap Ekosistem:

  • Pengelolaan Limbah Terpadu: Limbah padat dari proses produksi, seperti lumpur biosolid, sering diolah menjadi produk samping seperti pupuk atau bahan bakar alternatif.
  • Restorasi dan Konservasi: Banyak perusahaan yang berkomitmen pada program penanaman kembali dan konservasi keanekaragaman hayati di sekitar area operasional mereka.
  • Transparansi dan Edukasi: Konsumen didorong untuk menjadi bijak melalui label produk dan kampanye penggunaan tisu secukupnya (use what you need).

BACA JUGA:Warna Pakaian Putih Kusam? Jangan Buang! Ini 5 Bahan Alami Ampuh untuk Memutihkan Kembali.

Dengan menerapkan prinsip ekonomi sirkular dan inovasi teknologi, proses pembuatan tisu terus berevolusi. Tujuannya tidak hanya menghasilkan produk yang lembut dan higienis, tetapi juga menjaga keseimbangan alam untuk generasi mendatang. Pilihan ada di tangan konsumen untuk mendukung produk yang lahir dari proses bertanggung jawab.

#TisuRamahLingkung #ProduksiBerkelanjutan #EkonomiSirkular #FSC #Hijau #EcoFriendly #IndustriKertas #DaurUlang #KeseimbanganAlam #KonsumsiBijak

Sumber: