Rangkul Pelaku Usaha, BBKSDA Sumut Giatkan Aksi Konservasi Lanskap Batang Toru
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara berkomitmen menjaga keberlangsungan keanekaragaman hayati di kawasan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.-Istimewa-
SUMUT, DISWAY.ID — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara berkomitmen menjaga keberlangsungan keanekaragaman hayati di kawasan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Hal itu memerlukan sinergi menyeluruh, termasuk pelibatan sektor swasta. Langkah ini dipandang krusial karena kantong habitat potensial flora dan fauna berada berdampingan dengan wilayah kelola berbagai entitas.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menyampaikan bahwa pihaknya tengah menggalang perumusan rencana konservasi kolaboratif bersama warga, pemerintah daerah, dan korporasi di sekitar Batang Toru.
BACA JUGA:Resmi Ditutup! KKL PPM Universitas Malahayati 2026 Tinggalkan Pesan untuk Masyarakat Kota Metro
“Kita berkumpul, mengidentifikasi dan semua yang kita ajak diskusi sebagian besar menyatakan kesiapannya untuk mengalokasikan wilayahnya yang menjadi habibat potensi keanekaragaman hayati tinggi menjadi areal konservasi,” sambungnya.
Dalam kerangka tersebut, BBKSDA Sumut menyusun aksi partisipatif yang menyasar kontribusi perusahaan perkebunan di Areal Bernilai Konservasi Tinggi (ABKT).
“Mereka sudah komitmen mengizinkan areal konservasi untuk perlindunngan tumbuhan," kata Novita.
Inisiatif perlindungan lingkungan juga dijalankan oleh dua pemain industri utama di wilayah tersebut.
Pengembang PLTA Batangtoru, PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), tercatat konsisten menggarap program revegetasi serta menyediakan jembatan arboreal. Sementara itu, pengelola tambang emas Martabe, PT Agincourt Resources, mendirikan stasiun riset keanekaragaman hayati dan pusat proteksi orangutan Tapanuli.
Survei UI Catat Penurunan Kesesuaian Habitat Flora
Kajian survei cepat Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) Universitas Indonesia (UI) mengindikasikan adanya pergeseran tingkat kesesuaian habitat satwa dan vegetasi di bentang alam Batang Toru. Peneliti Pusat Penelitian Perubahan Iklim UI, Nurul Winarni, menyebut perubahan pada kategori fauna belum terlihat tajam lantaran kendala ketersediaan data.
“Kalau fauna tidak terlalu terlihat bedanya tapi ada daerah kesesuaian tinggi 32 persen itu itu menurun menjadi 30 persen, jadi kecil perubahannya,” kata Nurul dihubungi Rabu, 19 Agustus.
Dampak yang lebih nyata justru dialami oleh flora. Peristiwa banjir yang membawa material kayu gelondongan memicu degradasi tutupan vegetasi, sehingga zona kesesuaian habitat tinggi untuk tumbuhan menyusut signifikan dari 33,5 persen ke angka 19,9 persen.
Kawasan Batang Toru sendiri menjadi rumah penting bagi satwa langka seperti orangutan Tapanuli, owa ungko, siamang, kijang muncak, dan harimau. Selain fauna, bentang alam ini menopang keanekaragaman tumbuhan seperti pohon kemenyan—baik tegakan alami maupun budidaya warga—serta spesies kantong semar.
BACA JUGA:Sinergi PNM dan OJK Perkuat Bekal UMKM Perempuan Aceh untuk Naik Kelas
Sumber: